SMK NU Tunas Bangsa Bringin
SHARE :

Tantangan pendidikan Karakter di masa Pandemi

3
03/2021
Kategori : Wacana
Komentar : 0 komentar
Author : SMK NU Tunas Bangsa


Tantangan pendidikan Karakter di masa Pandemi

 

Pandemi Covid-19 membuat proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) di SMK NU Tunas Bangsa dilaksanakan secara daring (online). Hal itu untuk mengantisipasi penyebaran virus corona di lingkungan sekolah. Segala aktivitas pembelajaran dilakukan dari rumah, hanya 1 kali dalam 1 minggu guru datang ke sekolah, untuk melayani siswa yang ada kendala dalam pembelajaran daring (online). Secara akademis kegiatan pembelajaran masih dapat dilakukan melalui media digital, tapi pendidikan karakter peserta didik sedikit terabaikan. Lalu, apa sajakah tantangan pendidikan karakter di masa pandemi?

Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan penting dari Pendidikan Nasional Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Undang-undang tersebut jelas mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu mencetak generasi yang bermoral dan berkarakter sesuai dengan nilai, norma dan ajaran agama (cerdas spiritual dan emosional).

Sejalan dengan tujuan dari Sisdiknas, pendidikan karakter sebagai tempat untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter bagi peserta didik. Kita sangat prihatin dengan kondisi saat ini dimana persoalan moralitas akibat krisis karakter marak terjadi dikalangan anak-anak dan pelajar. Tawuran antar siswa, bullying, kekerasan terhadap guru dan orang tua, pornografi seakan menambah deretan panjang persoalan yang kerap menerpa pelajari. Mencermati fenomena yang ada, pelaksanaan pendidikan karakter bagi peserta didik harus tetap menjadi prioritas utama.

Selama ini sekolah menjadi salah satu institusi pendidikan yang bertanggung jawab mengembangkan pengetahuan, keterampilan serta karakter peserta didik. Orang tua menaruh harapan dan kepercayaan kepada sekolah sebagai pusat pendidikan akademik dan pendidikan karakter. Proses pembentukan nilai-nilai karakter siswa berjalan seiring proses pembelajaran di sekolah. Namun, sejak pandemi menerjang dan sekolah ditutup keberlanjutan pendidikan karakter  menjadi hal yang paling dicemaskan oleh orang tua.

Tantangan pelaksanaan pendidikan karakter pada masa wabah covid-19 ini dapat dideteksi dari dua hal. Pertama, pembelajaran berbasis online membuat siswa kehilangan role model dan sosok yang menjadi panutan. Kedua, penggunaan teknologi digital tidak mampu menjamin peserta didik aman dari terpaan konten  negatif yang berakibat pada persoalan moralitas dan krisis karakter. Salah satu kunci pendidikan karakter adalah adanya role model individu berkarakter. Di sekolah, yang menjadi role model bagi peserta didik dalam menumbuhkan nilai-nilai karakter adalah sosok seorang guru. Guru yang berkarakter akan mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai ajaran agama dalam kesehariannya sehingga dapat ditiru oleh peserta didik. Karena pada prinsipnya seorang anak adalah peniru. Peserta didik akan mudah mengembangkan karakternya dengan meniru atau menyaksikan perilaku gurunya. Pembiasaan dan contoh teladan yang diberikan guru akan melahirkan peserta didik yang memiliki karakter mulia. Misalnya saja, ketika mengikuti ujian peserta didik akan berusaha jujur karena menyadari gurunya selalu mengutamakan kejujuran dalam kesehariannya.

Namun, sejak pembelajaran jarak jauh diberlakukan, segala aktivitas belajar-mengajar berpindah ke ruang digital. Intensitas perjumpaan guru dan siswa berkurang dan komunikasi hanya dilakukan lewat dunia maya. Kedekatan batin yang terjalin melalui bimbingan, arahan, dan tauladan antara siswa dan guru tidak berjalan sebagaimana mestinya. Peserta didik seperti kehilangan figur yang digugu dan ditiru. Kondisi tersebut membawa kekosongan dalam diri siswa terhadap nilai-nilai pendidikan moral dan karakter.

Saatnya pemerintah merumuskan kebijakan terbaik dalam menjawab tantangan pendidikan karakter selama pandemi. Kita tidak mengharapkan pudarnya karakter peserta didik menjadi bagian dari kebiasaan baru dari kehidupan mereka. Sungguh ironi, bila nantinya kita melihat generasi muda kehilangan karakter positif akibat sistem pembelajaran daring yang hanya memprioritaskan transfer pengetahuan tanpa memperhatikan penanaman nilai-nilai moral dan karakter.

 

Wacana oleh: Asmah Risdiyanti, S. Pd., Bendahara SMK NU Tunas Bangsa

Berita Lainnya

25
09/2021
22
09/2021
15
09/2021
14
09/2021
PELAJAR INDONESIA MAKIN CAKAP DIGITAL
Author : SMK NU Tunas Bangsa
13
09/2021
KENAPA SISWA SMK PERLU PRAKERIN/MAGANG?
Author : SMK NU Tunas Bangsa


Tinggalkan Komentar