SMK NU Tunas Bangsa Bringin
SHARE :

Sejarah Vaksin, Dari Sebagai Senjata Biologi Sampai Jadi Penyelamat Dunia

17
02/2021
Kategori : Kesehatan
Komentar : 0 komentar
Author : SMK NU Tunas Bangsa


Sejarah Vaksin, Dari Sebagai Senjata Biologi Sampai Jadi Penyelamat Dunia

 

Sandra Odilifia Benjamin Jesty berjasa karena penemuan utamanya pada percobaan pengobatan wabah cacar. Cacar, sebuah kata yang menakutkan banyak orang. Dahulu, wabah cacar amat menakutkan. Pada awal abad ke-14, praktik senjata biologis berupa melemparkan mayat yang terkena cacar dilakukan oleh tentara Tartar dan taktik ini digunakan untuk melemahkan kekuatan lawan.
Dr Ken Alibek, seorang fisikawan asal Rusia menyebutkan bahwa cacar dijadikan senjata biologis (bio weapon) antara perang Prancis dan Inggris di Amerika Utara (saat ini namanya Kanada) pada tahun 1754-1767. Ini tertulis dalam “Smallpox: a Disease and a Weapon” via Ijidonline.com.
Dan dalam perkembangannya, penemuan tidak sengaja mengarah pada vaksin pertama, dan transformasi dalam kesehatan manusia.

Dengan meningkatnya perdagangan global dan penyebaran berbagai kerajaan di dunia, cacar melanda masyarakat di seluruh dunia.
Sekitar sepertiga orang dewasa yang terinfeksi cacar diperkirakan akan meninggal, begitupun 8 dari 10 bayi.
Pada awal abad ke-18, penyakit ini diperkirakan telah membunuh sekitar 400.000 orang setiap tahun di Eropa.
Wabah cacar tahun 1721 di kota Boston, AS, memusnahkan delapan persen populasi.

Namun, ada satu obat yang mujarab, yang dikenal sebagai inokulasi atau variolasi. Tindakan ini melibatkan pengambilan nanah dari seseorang yang menderita cacar dan menggaruknya ke kulit orang yang sehat. Ya, memang terdengar aneh.
Teknik lain termasuk meniup keropeng cacar ke hidung. Ini pertama kali dipraktikkan di Afrika dan Asia sebelum akhirnya dibawa ke Eropa dan Amerika Utara oleh seorang budak bernama Onesimus pada abad ke-18.
Inokulasi biasanya menghasilkan kasus penyakit yang ringan, Tapi tidak selalu. Beberapa orang tertular cacar dan semua yang diinokulasi menjadi pembawa penyakit, secara tidak sengaja menularkannya kepada orang yang mereka temui. Sehingga diperlukan solusi yang terbaik.

(Salah satu hal yang menarik adalah, selama wabah cacar di barat Inggris pada tahun 1774, petani Benjamin Jesty memutuskan untuk mencoba sesuatu. Ia menggoreskan nanah dari lesi cacar sapi pada ambing sapi ke dalam kulit istri dan putranya. Tak satu pun dari mereka terjangkit cacar.

Cacar sapi

Selama wabah cacar di Barat Inggris pada tahun 1774, petani Benjamin Jesty memutuskan untuk mencoba sesuatu.
Ia menggoreskan nanah dari lesi cacar sapi pada ambing sapi ke dalam kulit istri dan putranya. Tak satu pun dari mereka terjangkit cacar.
Pria itu berjasa menciptakan vaksinasi, dan yang lebih penting, mempopulerkannya.

(Tahun tahun 1796, Edward Jenner, seorang dokter desa yang bekerja di kota kecil Berkeley di Gloucestershire mengumpulkan beberapa bukti tidak langsung dari para petani dan pemerah susu dari kasus cacar. Dan Dr Jenner memutuskan untuk mencoba sebuah eksperimen.

Memulai vaksinasi secara massal

Namun demikian, Jenner menyadari bahwa vaksin cacar miliknya, vaccinia, berpotensi mengubah pengobatan dan menyelamatkan nyawa. Tapi dia juga tahu dia hanya akan menghentikan penyakitnya jika dia bisa memvaksinasi orang sebanyak mungkin.

Setelah Jenner mempublikasikan temuannya, berita tentang penemuan tersebut menyebar ke seluruh Eropa. Dan kemudian, berkat dukungan Raja Spanyol di seluruh dunia.
Raja Charles IV telah kehilangan beberapa anggota keluarganya sendiri karena cacar, sementara yang lain termasuk putrinya Maria Luisa meninggalkan bekas luka setelah selamat dari penyakit tersebut.
Ketika dia mendengar tentang vaksin Jenner, dia menugaskan seorang dokter untuk memimpin ekspedisi global untuk mengirimkannya ke wilayah terjauh di Kekaisaran Spanyol. Meskipun adil, itu karena sebagian besar wilayah di dunia ini adalah tempat penjajah Eropa pertama kali terjangkit cacar.
Pada 1803, sebuah kapal berlayar ke Amerika Selatan. Di dalamnya ada 22 anak yatim piatu yang bertindak sebagai pembawa vaksin.
Membagi pasukan, ekspedisi melakukan perjalanan melalui Karibia, Amerika Selatan dan Tengah dan akhirnya melintasi Pasifik untuk mencapai Filipina.
Dalam 20 tahun sejak penemuannya, vaksin Jenner telah menyelamatkan jutaan nyawa. Segera, vaksinasi cacar menjadi praktik umum di seluruh dunia. Itu benar-benar diberantas pada tahun 1979.
“Ini memberi saya harapan untuk vaksin covid-19. Sekarang kami memiliki 200 tahun pengetahuan tentang virus dan sistem kekebalan.
Jenner salah satu pahlawan ilmiah terbaik saya. Tekad dan inovasinya mengubah dunia dan menyelamatkan jutaan nyawa yang tak terhitung jumlahnya dan terus menyelamatkan nyawa,” tutup Gower.
(Disarikan dari berbagai sumber).

Berita Lainnya

25
09/2021
22
09/2021
15
09/2021
14
09/2021
PELAJAR INDONESIA MAKIN CAKAP DIGITAL
Author : SMK NU Tunas Bangsa
13
09/2021
KENAPA SISWA SMK PERLU PRAKERIN/MAGANG?
Author : SMK NU Tunas Bangsa


Tinggalkan Komentar