SMK NU Tunas Bangsa Bringin
SHARE :

Meningkatkan Budaya Membaca di Kalangan Pelajar

16
03/2021
Kategori : Wacana
Komentar : 0 komentar
Author : SMK NU Tunas Bangsa


Meningkatkan Budaya Membaca di Kalangan Pelajar

Banyak tokoh besar dunia menyatakan, membaca adalah jantungnya pendidikan. Hal ini membuktikan kalau membaca mempunyai peran penting dalam bidang pendidikan. Budaya membaca dikalangan pelajar memang belum menggembirakan. Maraknya teknologi membuat minat baca turun. Kita pernah terkejut dengan “Tragedi nol buku” Taufik Ismail.  Beliau pernah membandingkan budaya baca di kalangan pelajar Indonesia dengan negara-negara lainnya. Rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, di Rusia 12 buku, di Jepang 15 buku, di Brunai Darussalam 7 buku, di Singapura 6 buku, di Malaysia 6 buku. Sedangkan di Indonesia 0 buku. Bukankah buku dan negara maju adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan? Tidak heran kalau di negara maju sebagian besar masyarakatnya adalah gemar membaca. Bahkan membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan budaya mereka. Dari beberapa penelitian menyatakan membiasakan diri membaca buku, koran maupun media lainnya, membuat kita berlatih memusatkan pikiran dan merangsang saraf otak untuk bekerja. Untuk mendorong dan meningkatkan minat baca siswa perlu dorongan banyak pihak. Selain itu perlu pula pemahaman yang lebih pada siswa tentang pentingnya membaca. Salah satunya adanya gerakan literasi di sekolah. Misal sekolah menyediakan waktu minimal 15 menit buat siswa untuk membaca buku diluar pelajaran sekolah.

Kebiasaan membaca akan berkembang menjadi budaya membaca jika didukung berbagai faktor seperti ketersediaan buku bacaan, kondisi siswa, lingkungan belajar dan juga dukungan orang tua. Penyediaan buku-buku bacaan non paket berkualitas akan menjadi sumber bacaan yang penting dan bermanfaat bagi siswa untuk mendorong minat dan kemampuan membaca siswa.Satu yang pasti jika gerakan membiasakan membaca buku ini bukan hanya gerakan yang hanya hangat-hangat tahi ayam, programnya hanya bertahan selang beberapa waktu saja setelah itu hilang begitu saja.

Kita ambil contoh dari negara Singapura sebagai salah satu negara di Asia, bahkan dunia, dengan kualitas pendidikan terbaik. Capaian tersebut ternyata tak lepas dari minat baca penduduk Singapura yang tinggi. Ada banyak program yang pemerintah Singapura lakukan guna mendongkrak tingkat literasi penduduknya. Kampanye serta program-program membaca dilakukan sejak dini. Bahkan, menanamkan minat baca dilakukan sejak di rumah sakit, kepada ibu yang baru melahirkan sekaligus pada bayinya. Kemudian negara Australia dengan pola literasi dari program setiap hari saat pulang sekolah, siswa diwajibkan membawa pulang satu buku bacaan. Dan ini sebagai PR untuk setiap siswa, dimana terdapat peran orangtua bertugas membimbing siswa-siswa mereka ketika membaca buku tersebut. Sekolah pun memiliki program Library Day, yang berlaku setiap hari Kamis. Pada hari itu siswa diperbolehkan meminjam satu buku bacaan untuk waktu seminggu ke depan. Selanjutnya, selain buku tersebut dibaca, siswa ditugasi mencari kosakata baru, membuat kalimat, kemudian membuat ringkasan buku tersebut dengan bahasa sendiri. Contoh lagi negara Korea, para siswa tiba di sekolah 30 menit sebelum pelajaran dimulai. Saat tiba di kelas, para siswa itu harus membaca buku yang disukainya. Kegiatan membaca ini juga dilakukan oleh bersama para guru di dalam kelas. Jadi, saat bersamaan, para guru dan siswa melakukan kegiatan membaca bersama-sama. Setelah waktu membaca habis, dilakukan diskusi mengenai buku yang mereka baca. Di akhir kegiatan, siswa juga diminta menuliskan semacam kesimpulan yang dibacanya dengan kalimat pendek dan gambar dan tugas ini diberikan kepada siswa tergantung kelasnya.

Jika kegiatan seperti ini bisa komitmen dan konsisten dilakukan di sekolah-sekolah kita, keyakinannya jika minat baca di Indonesia bisa meningkat. Tak hanya itu, kegiatan ini juga akan mendekatkan siswa-siswa dengan dunia buku. Jadi membaca itu bukan dikarenakan ada perlunya, tapi memang menjadi sebuah keperluan dari bagian aktivitas keseharian. Komitmennya membuat hari tak sekedar berlalu begitu saja, tetapi harus selalu mendapat “vitamin” bacaan yang bermutu karena dengan membaca akan membuat kita semakin imajinatif, aktif, kreatif. Mengutip quotes dari Penulis Helvy Tiana Rosa “Untuk bisa membaca banyak buku diperlukan dua hal dimana uang dan waktu tidak termasuk diantaranya. Dua hal tersebut adalah gairah dan kerendahan hati bahwa kita banyak tak tahu”. Mari kita terus membuka pikiran dengan meningkatkan semnagat membaca.

 

Wacana oleh Sri Yuni Rachmawati, S.Pd, Waka Kurikulum SMK NU Tunas Bangsa

Berita Lainnya

3
06/2021
2
06/2021
In House Training Penyusunan E-KTSP 2021/2022
Author : SMK NU Tunas Bangsa
10
05/2021
{PENTING} Surat Persetujuan Tatap Muka
Author : SMK NU Tunas Bangsa
10
05/2021
11
04/2021
10
04/2021


Tinggalkan Komentar